Rabu, 15 Juli 2015

Ini Tempat Berendam Air Panas Paling Enak di Lembang


Sesudah bergulat dengan aneka kesibukan satu minggu penuh, berendam air panas di Lembang mungkin saja salah satu alternatif mengasyikkan untuk melepas capek. Badan kembali jadi fresh serta pikiran terlepas dari capek. 

Di Lembang sendiri ada banyak tempat yang tawarkan tempat pemandian air panas. Kami pilih Gracia Hot Spring Water untuk melepas capek. 

Sore hari mendekati maghrib kami pergi ke Lembang serta hingga kurang lebih jam 10 melalui demikian malam itu. Gracia sendiri tempatnya ada ditengah-tengah kebun teh, tak jauh dari Objek Wisata Tangkuban Perahu. Dari baligo didepan jalan bertuliskan 'Gracia Hotel & Spa' nyatanya masih tetap mesti melalui lebih kurang 1 Km lagi, melalui hamparan kebun teh serta keadaan jalan yang kurang bagus. Mungkin saja bila kemari pada siang atau sore hari pemandangannya cukup lumayan indah, tetapi berhubung kami ke sana malam malah kesannya jadi menyeramkan. 

Lokasi Gracia cukup luas, saya tak terlampau memerhatikan sebenarnya, namun sejenis banyak rumah-rumah penginapan juga yang disewakan. Kurang dari 10 menit dari pintu masuk, kami pada akhirnya tiba di tempat pemandian air panas. Sesudah membayar ticket masuk seharga 52 ribu untuk orang dewasa, kami bergegas mencari tempat duduk tepi kolam yang kosong untuk menaruh barang bawaan. 

Seakan tidak peduli bakal udara Lembang yang sangatlah dingin, malam itu pengunjung cukup ramai, atau mungkin saja karenanya malam minggu. Bercakap ke sana kemari, tertawa wara-wiri. Air panas di sini juga adalah air panas alami. Umumnya orang kemari terkecuali mau berendam juga mau sekalian relaksasi, lantaran memanglah tempatnya enak untuk menentramkan diri. 

Awal mulanya pernah sangsi juga untuk turun, meskipun awal mulanya kemauan kemari memanglah untuk berendam lantaran hawa di luar dingin sekali terasa. Jadi di Gracia ini ada 3 kolam paling utama untuk orang dewasa serta 1 kolam untuk anak-anak. Seputar jam 2 pagi pada akhirnya kami bergegas untuk pulang, terkecuali lantaran hawa Lembang yang semakin dingin tidak bersahabat.

Minggu, 12 Juli 2015

Melihat sisi lain Keindahan Gunung Bromo dari Udara

Menikmati pagi di Bromo menjadi impian bagi sebagian orang. Suasana yang hening, dingin, pemandangan yang dashyat plus tradisi lokal yang terpelihara menjadi daya tarik Bromo yang abadi. Jawa Timur memang beruntung memilikinya. Bromo terletak sekitar 85 km dari Surabaya. Daerah ini bisa dijangkau dari Probolinggo atau Malang. Jalur normal biasanya dari Probolinggo. Adapun dari Malang, kita harus melewati lautan pasir dengan pilihan dan jumlah kendaraan yang terbatas.

Di Bromo, orang biasa menyaksikan terbitnya matahari di sela Gunung Bromo jika dilihat dari lereng Gunung Pananjakan. Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif dan memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.

Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi terbaik di Indonesia karena alam yang sangat indah dan keunikan budayanya. Di Bromo sudah banyak tersedia akomodasi yang memadai. Jika berkunjung pada bulan Kesada (bulan dalam kepercayaan masyarakat Bromo), kita bisa menyaksikan ritual Kesada, berupa upacara melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo yang bergolak. Bagi penduduk Bromo, yaitu suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan upacara dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari, setiap bulan purnama.

Menikmati Sunrise di Pananjakan.
Menyaksikan matahari terbit adalah momen terbaik menikmati alam Bromo. Agar bisa menikmatinya, kita harus berangkat naik Jeep dari penginapan pukul 03.00 menuju Penanjakan. Mobil bisa kita sewa di penginapan. Atau, jika ingin menikmati pemandangan secara alami dan menyehatkan, kita bisa berjalan melewati jalan setapak menuju Penanjakan. Namun, untuk perjalanan seperti ini, kita sebaiknya menyewa pemandu yang sudah terbiasa menghadapi jalan dan medan di Bromo. Di bukit Pananjakan kita bisa melihat Gunung Bromo dari atas, juga gunung batok dan gunung Semeru. Saat matahari terbit, kabut masih menyelimuti bagian bawah Gunung Bromo sehingga panoramanya indah dan terasa penuh mistik.

Lautan Pasir.
Setelah menikmati sunrise, kita menuruni bukit menyaksikan lautan pasir yang sangat indah, seluas 15 km2 di kaki Gunung Bromo. Di lokasi ini ada tempat yang dinamai Pasir Berbisik karena di sanalah syuting film Pasir Berbisik diadakan. Di sini juga terdapat kuil Hindu yang konon tidak hancur saat Bromo meletus.

Kaldera Bromo.
Agar bisa menikmati kaldera atau kawah Gunung Bromo, kita harus berjalan dari pura sejauh dua hingga tiga kilometer. Namun, jangan takut. Di sini kita bisa menyewa kuda dari penduduk Tengger dengan biaya Rp50.000–Rp100.000. Namun, begitu tiba di tempat tujuan, kita masih harus menaiki sekitar 300 anak tangga untuk sampai di bibir kawah.
Untuk menaiki Bukit Pananjakan, kita sebaiknya menggunakan Jeep. Jika tidak menggunakan Jeep, mobil bisa-bisa amblas di medan pasir. Jeep memang bisa melewati medan berpasir dan tikungan selama perjalanan ke Bromo. Untuk itu mintalah tolong kepada pihak hotel atau tempat kita menginap untuk mencarikan Jeep karena mereka biasanya sudah bekerja sama dengan penyewaan Jeep. Satu hal yang perlu diingat, saat upacara Kasada (yang diselenggarakan setiap bulan Agustus atau September), kita harus memesan mobil jauh-jauh hari.

Bromo adalah tempat wisata yang sangat ideal bagi warga kota yang ingin melepas penat karena semua objek wisatanya bisa dikunjungin dalam waktu satu hingga dua hari saja.